Hidup Efisien dan Sehat ala Kecipir

Tentang Kecipir

Kecipir (Psophocarpus tetragonolobus (L.) D.C.) adalah tumbuhan merambat polong mudanya dimanfaatkan sebagai sayuran. Kecipir berasal dari Indonesia bagian timur. Di Sumatera dikenal sebagai kacang botol atau kacang belingbing. Nama lainnya adalah jaat (bahasa Sunda), kelongkang (bahasa Bali), serta biraro (Ternate). Sayuran kecipir (Psophocarpus tetragonolobus) memiliki penampilan khas. Buahnya berpolong dengan 4 siku yang bersayap atau bergelombang. Tumbuhannya merambat, membentuk semak. Tanaman asli Indonesia ini dapat dibudidayakan di mana saja karena dapat ditanam sebagai tanaman pekarangan ataupun tanaman tumpang sari.

Manfaat Kecipir

Manfaat kecipir cukup banyak. Diantaranya yaitu buah mudanya kerap dijadikan sayur. Buah tuanya dapat diambil bijinya untuk diolah menjadi minyak. Bagian lain yang belum banyak dimanfaatkan orang adalah umbinya. Umbi ini enak dimakan. Hasil penelitia menunjukkan kandungan protein pada umbi cukup tinggi. Di negara kita kecipir lebih banyak diusahakan untuk diambil buah mudanya. Padahal di luar negeri, contohnya Ghana, kecipir diusahakan khusus untuk diambil bijinya yang sudah tua. Hampir semua bagian tanaman kecipir dapat dimanfaatkan untuk bahan pangan, karena kandungan gizinya cukup tinggi. Umbinya mengandung 13,6% protein dan daunnya 5%. Bahkan kandungan protein dan karbohidratnya mengungguli kacang tanah dan hampir setara dengan kacang kedeleai.

Tanaman kecipir (Psophocarpus tetragonolobus) dikenal masyarakat umumnya karena buah mudanya sering dibuat sayur dan bahan pecel. Padahal bukan sekadar itu yang dapat dipersembahkan kecipir, bijinya yang sudah tua dapat diolah menjadi tempe. Hal ini sebenarnya dapat mengurangi ketergantungan negara kita akan impor kedelai, karena protein yang dihasilkan tidak kalah besar dengan kandungan protein yang ada dalam kedelai. Protein kacang kecipir mengandung jenis asam amino esensial yang hampir sejajar dengan biji kedelai, sehingga dapat digunakan sebagai sumber protein nabati. Di samping itu juga mengandung vitamin dan mineral yang sangat berguna bagi tubuh seperti betacaroten, tokoferol, thiamin, riboflavin, niacin, asam askorbat, kalsium, magnesium, kalium, natrium, ferum dan fosfor (Haryoto, 2001).

Seperti dijelaskan di atas, salah satu produk olahan dari kecipir adalah tempe kecipir. Tempe kecipir merupakan kecipir yang sudah difermentasi. Proses fermentasi kecipir ini mengubah sifat kecipir menjadi lebih baik dari sebelumnya. Pada tempe, kuatnya enzim proteolitik dari Rhizopus menyebabkan cepatnya hidrolisis protein menjadi asam amino. Perubahan ini tidak disangsikan lagi memperbaiki daya cerna tempe (Harris & Karmas, 1989). Protein tepung tempe memiliki nilai biologis tertinggi diasumsikan karena proses fermentasi Rhizopus mampu memperbaiki nilai biologis tempe.

Pembuatan tempe dari kecipir dan beras diharapkan akan dapat meningkatkan mutu dan daya cerna protein tempe. Perbaikan tersebut disebabkan faktor pembatas asam amino (metionin dan sistein) pada kecipir dapat diisi kelebihan asam amino dari beras. Hasil penelitian yang dilakukan Suliantari, K. Then dan M. Astawan tentang “Komplementasi Kedelai Dengan Beras Untuk Pembuatan Tempe” mengilhami penelitian tentang tempe kecipir-beras dilakukan Dona Astuti dan Wiwit Estuti di Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Padang yang berjudul “Kombinasi Kecipir Dan Beras Untuk Meningkatkan Mutu Tempe Kecipir”.

Hasil penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan nyata antarperlakuan tempe kecipir-beras dari segi warna dan aroma. Penambahan beras 30% dari total campuran lebih disukai panelis dari segi warna. Sedangkan dari segi aroma panelis lebih menyukai penambahan sebesar 10% beras dari total campuran. Kemudian dari segi tekstur dan rasa tidak ada perbedaan nyata antarperlakuan. Penambahan beras sebanyak 30% dari total campuran tempe kecipir-beras adalah yang paling baik, di mana nilai asam aminonya mencapai 100% dan tingkat kesukaan panelis lebih baik dari segi warna.

Tampaknya pemanfaatan kecipir dan beras sebagai bahan baku tempe dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif masukan untuk industri tempe atau tahu tingkat rumah tangga. Pemaanfaatan produk dalam negeri yang cara budidaya atau cara mendapatkannya mudah perlu ditingkatkan dalam proses produksinya. Sehingga menghasilkan produk yang harganya terjangkau tetapi sehat untuk dikomsumsi. Hal ini dapat mengurangi pemborosan dalam biaya produksi ataupun pengeluaran yang lainnya. Selain itu, manfaat yang dihasilkan pun dapat meningkatkan tingkat kesehatan masyarakat. Hal ini menunjukkan murah bukan berarti buruk atau kurang baik tetapi murah itu ternyata bisa lebih baik dari yang mahal.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: